Impian
Impian adalah sesuatu yang dimiliki semua orang. Ya, termasuk diriku pun memilikinya. Menjadi Penulis adalah impianku dari dulu, tepatnya dari SMP. Itu bermula ketika Guru Bhs. Indonesia memberi tugas pada semua murid di kelasnya untuk membuat sebuah cerpen. Guru ku mengatakan bila 3 murid yang mendapatkan nilai tertinggi, karyanya akan dipajang di mading sekolah. Waktu itu aku sangat bersemangat.
Guru ku memberi waktu 2 hari untuk menyelesaikan cerpen itu. Ketika tiba waktunya tugas itu dikumpulkan. Teman-teman sekelasku pada heran karena cerpen ku begitu panjang sampai 2 lembar kertas folio. Wajar saja, karena kebanyakan cerpen yang isinya panjang itu perempuan itu pun sangat sedikit yanh sampai 2 lembar, sedangkan lelaki kebanyakan hanya 1/2 lembar sampai 1 lembar saja. Guru ku bilang akan mengumumkan nilainya ketika ada jam pelajarannya di kelasku.
Pemenang 3 nilai tertinggi pun diumumkan. Dan aku begitu tersentak, ketika namaku masuk dalam 3 siswa dengan nilai tertinggi. Teman-temanku terheran-heran ketika aku masuk ke tiga besar. Aku dibikin terkejut lagi ketika 2 siswa yang disebut itu perempuan semua dan mereka itu tergolong siswi terpintar di kelasku. Nilai kita bertiga waktu itu sama, yaitu: 93. Waktu itu aku membuat cerpen berjudul "Dikejar Anjing", cerpen itu menceritakan pengalamanku ketika dikejar oleh seekor anjing ketika berjalan-jalan menaiki sepeda.
Semenjak itulah, aku bertekad untuk menjadi seorang Penulis. Memang, dari dulu aku selalu suka ketika Guru Bhs. Indonesia memberi tugas membuat cerpen atau menceritakan pengalaman ketika libur sekolah. Impian itu semakin menggebu ketika aku mulai menyukai membaca beberapa Novel karya Habiburrahman El Shirazy, aku bahkan sampai mengidolakannya. Sayangnya setelah aku lulus SMK, aku mulai malas membaca dan impian itu pun kian redup.
Impian itu hanya menjadi sebuah ucapan belaka. Aku tak pernah benar-benar berusaha untuk menggapai impian itu. Namun dalam hati ini, impian itu belum redup dan masih dipegang teguh. Aku pun masih berharap bahwa impian itu akan bisa bersinar suatu saat nanti.
By: Ry Diary
Guru ku memberi waktu 2 hari untuk menyelesaikan cerpen itu. Ketika tiba waktunya tugas itu dikumpulkan. Teman-teman sekelasku pada heran karena cerpen ku begitu panjang sampai 2 lembar kertas folio. Wajar saja, karena kebanyakan cerpen yang isinya panjang itu perempuan itu pun sangat sedikit yanh sampai 2 lembar, sedangkan lelaki kebanyakan hanya 1/2 lembar sampai 1 lembar saja. Guru ku bilang akan mengumumkan nilainya ketika ada jam pelajarannya di kelasku.
Pemenang 3 nilai tertinggi pun diumumkan. Dan aku begitu tersentak, ketika namaku masuk dalam 3 siswa dengan nilai tertinggi. Teman-temanku terheran-heran ketika aku masuk ke tiga besar. Aku dibikin terkejut lagi ketika 2 siswa yang disebut itu perempuan semua dan mereka itu tergolong siswi terpintar di kelasku. Nilai kita bertiga waktu itu sama, yaitu: 93. Waktu itu aku membuat cerpen berjudul "Dikejar Anjing", cerpen itu menceritakan pengalamanku ketika dikejar oleh seekor anjing ketika berjalan-jalan menaiki sepeda.
Semenjak itulah, aku bertekad untuk menjadi seorang Penulis. Memang, dari dulu aku selalu suka ketika Guru Bhs. Indonesia memberi tugas membuat cerpen atau menceritakan pengalaman ketika libur sekolah. Impian itu semakin menggebu ketika aku mulai menyukai membaca beberapa Novel karya Habiburrahman El Shirazy, aku bahkan sampai mengidolakannya. Sayangnya setelah aku lulus SMK, aku mulai malas membaca dan impian itu pun kian redup.
Impian itu hanya menjadi sebuah ucapan belaka. Aku tak pernah benar-benar berusaha untuk menggapai impian itu. Namun dalam hati ini, impian itu belum redup dan masih dipegang teguh. Aku pun masih berharap bahwa impian itu akan bisa bersinar suatu saat nanti.
By: Ry Diary